Senin, 29 April 2013

SAP KISTA OVARIUM


SATUAN ACARA PENYULUHAN

Bidang Sudi     :  Asuhan Kebidanan pada Ibu dengan Kisata ovarium
Topik                :  Kisata ovarium
Sasaran             :  Pasien yang dalam perawatan di ruang Kandungan Di RSU Dr. Soetomo Surabaya
Tempat             :  Ruang Kandungan Di RSU Dr. Soetomo Surabaya
Hari / Tanggal  :  Kamis, 11 April 2013
Waktu              :  1 x 30 menit
Penyuluh         :         
1.          Novi Khoirotun Nisak          (7210043)
2.          Siti Aminah                            (7209019)
3.          Siti Masruroh                        (7210059)
4.          Ita setyawati                           (7210081)
 

I.              Tujuan Interaksional Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan, diharapkan  ibu bisa mengerti tentang penyakit Kista Ovarium.
II.           Tujuan Interaksional Khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan ibu dapat :
1.      Mengetahui pengertian tentang Kista Ovarium
2.      Mengetahui dan memahami tentang penyebab terjadinya Kista Ovarium
3.      Mengetahui gejala-gejala yang timbul pada Kista Ovarium
4.      Mengetahui beberapa pemeriksaan yang harus dilakukan pada penderita Kista Ovarium
5.      Mengetahui pengobatan yang diberikan pada penderita Kista Ovarium
6.      Mengetahui dan mengerti tentang komplikasi yang mungkin terjadi pada Kista Ovarium
III.        Sasaran
Pasien yang dalam perawatan di ruang Kandungan RSU Dr. Soetomo Surabaya
IV.        Metode yang Dilakukan
1.      Ceramah tanya jawab
V.           Media yang Digunakan
1.      Leaflet

VI.        Materi Penyuluhan
1.      Pengertian Kista Ovarium
2.      Penyebab terjadinya Kista Ovarium
3.      Gejala Kista Ovarium
4.      Macam-macam pemeriksaan pada Kista Ovarium
5.      Pengobatan yang diberikan pada Kista Ovarium

VII.     Kriteria Evaluasi
1.      Evaluasi struktur
a.       Ibu hadir dalam acara penyuluhan
b.      Penyelenggaraan penyuluhan diselenggarakan di Ruang Kandungan RSU Dr. Soetomo Surabaya
c.       Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan sebelumnya
2.      Evaluasi proses
a.       Ibu antusias terhadap materi penyuluhan
b.      Ibu tidak meninggalkan tempat penyuluhan
c.       Ibu mengajukan pertanyaan dan menjawab dengan lancar
3.      Evaluasi Hasil
a.       Ibu mengetahui dan memahami tentang kista ovarium
b.      Ibu hadir saat penyuluhan















VIII.  Kegiatan Penyuluhan
No
Waktu
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Peserta
1
5 menit
PEMBUKAAN
-          Membuka kegiatan dengan mengucap salam
-          Memperkenalkan diri
-          Menyampaikan tujuan penyuluhan
-          Menyebutkan materi yang akan disampaikan

Menjawab salam
Mendengarkan
Memperhatikan
Memperhatikan
2
15 menit
PELAKSANAAN
-          Menyampaikan materi tentang :
  1. Pengertian Kista Ovarium
  2. Penyebab terjadinya Kista Ovarium
  3. Gejala Kista Ovarium
  4. Macam-macam pemeriksaan pada Kista Ovarium
  5. Pengobatan yang diberikan pada Kista Ovarium
-          Memberi kesempatan bertanya






Memperhatikan
3
10 menit
EVALUASI
Membuka kesempatan diskusi
Doorperize

Bertanya dan menjawab pertanyaan
4
5  menit
-          Menyampaikan terima kasih atas kerjasamanya
-          Mengucapkan salam penutup
Memperhatikan


Menjawab salam

LAMPIRAN
KISTA OVARIUM







KISTA OVARIUM
1.1.       Pengertian

Kista ovarium merupakan tumor jinak berupa kantong abnormal berisi cairan atau setengah cair yang tumbuh dalam indung telur (ovarium). Indung telur adalah rongga berbentuk kantong berisi cairan di dalam jaringan ovarium. Kista tersebut disebut juga kista fungsional karena terbentuk setelah telur dilepaskan sewaktu ovulasi. Kista fungsional akan mengkerut dan menyusut setelah beberapa waktu (setelah 1-3 bulan).
Gambar 1.1 : kisata ovarium
1.2.       Macam-macam kisata ovarium
Kista ovarium dibagi menjadi empat, yaitu :
a.    Kista Folikuler :
Kista yang terjadi dari folikel normal yang melepaskan ovum yang ada di dalamnya. Terbentuk kantung berisi cairan atau lendir di dalam ovarium.
b.    Kista Corpus Luteum
Kista jenis ini lebih jarang terjadi, ukurannya lebih besar dari kista fungsional. Kista ini timbul karena waktu pelepasan sel telur terjadi perdarahan, dan lama-lama bisa pecah dan timbul perdarahan yang terkadang perlu tindakan operasi untuk mengatasinya. Keluhan biasanya timbul rasa sakit yang berat di rongga panggul.
c.    Kista Teka Lutein
Kista jenis ini lebih jarang terjadi dan sering dihubungkan dengan terjadinya kehamilan di luar kandungan (ektopik pregnansi). Kista ini akan hilang sendiri tanpa pengobatan atau tindakan begitu kehamilan diluar kandungan dikeluarkan
d.   Polikistik kista
Kista jenis ini banyak yang mengandung cairan jernih. Bisa timbul di kedua ovarium kiri dan kanan, berhubungan dengan gangguan hormon dan gangguan menstruasi. Wanita yang mengandung polikistik dapat diketahui antara lain :
1.      Mengeluh darah menstruasi yang keluar sedikit (oligomennorhea)
2.      Tidak keluar darah menstruasi (amenorrhea)
3.      Tidak terjadi ovulasi
4.      Mandul
5.      Berjerawat

1.3.       Kista Ovarium dan Kehamilan

Kista ovarium dapat menjadi komplikasi serius selama kehamilan. Kista adalah kantung yang tumbuh di dalam rahim. Kehamilan dengan kista ovarium jarang dijumpai. Pada kehamilan yang disertai kistoma ovarii seolah-olah terjadi perebutan ruangan, dimana kehamilan makin membesar.
Oleh karena itu, kehamilan dengan kista dilakukan operasi untuk mengangkat kista tersebut pada umur hamil 16 minggu. Bahaya melangsungkan kehamilan bersamaan dengan kista ovarii adalah dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin yang akhirnya mengakibatkan abortus, kematian dalam rahim. Pada kedudukan kista dipelvis minor, persalinan dapat terganggu dan memerlukan penyelesaian dengan jalan operasi seksio sesarea. Pada kedudukan kista ovarii di daerah fundus uteri, persalinan dapat berlangsung normal, tetapi bahaya postpartum mungkin terjadi torsi kista, infeksi sampai abses. Oleh karena itu, segera setelah persalinan normal bila diketahui terdapat kista ovarii dilakukan laparotomi untuk mengangkat kista tersebut.
Kista ovarium dapat tumbuh di dalam indung telur yang merupakan tempat yang paling banyak ditumbuhi tumor. Tumornya berupa kistik, padat, kecil/besar dan berpengaruh pada mekanisme kerja hormon. Tumor jenis ini bisa jinak atau ganas. Kista ovarium dapat tumbuh besar dan menghambat pertumbuhan janin. Akibatnya, akan terjadi abortus/bayi lahir prematur. Pada kasus ini, jika kondisi ibu baik, dokter akan mempertahankan kehamilan dengan cara melakukan tindakan pemeriksaan dan perawatan secara intensif.
Umumnya, proses persalinan dilakukan dengan tindakan operasi. Dokter akan mengangkat kista setelah persalinan selesai. Sebaliknya, jika kondisi ibu dan janin buruk, beberapa dokter tidak akan mempertahankan kehamilan untuk menyelamatkan kondisi sang ibu.

1.4.       Gejala Kista Ovarium
Kanker Ovarium sebagian besar berbentuk tumor kistik (kista ovarium) dan sebagian kecil berbentuk tumor padat. Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan gejala dalam waktu yang lama. Bila gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik pada stadium awal dapat berupa ganguan haid. Jika tumor sudah menekan rectum atau kandung kemih mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih. Dapat juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama.
Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites (penimbunan cairan dalam rongga perut) penyebaran ke omentum (lemak perut), dan organ-organ didalam rongga perut lainya seperti usus-usus dan hati seperti perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan, gangguan buang air besar dan buang air kecil. Penumpukan cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak nafas.
Karena sebagian besar dari kanker ovarium bermula dari suatu kista, maka apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus diakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker ovarium) kewaspadaan terhadap kista yang bersifat ganas dilakukan pada keadaan :
a.       Kista cepat membesar
b.      Kista pada usia remaja atau pasca menopause
c.       Kista dengan dinding yang tebal dan tidak berurutan
d.      Kista dengan bagian padat
e.       Tumor pada ovarium
Bila ditemukan sifat kista seperti tersebut diatas, harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memperkuat dugaan ke arah kanker ovarium seperti tindakan USG dengan Doppler untuk menentukan arus darah dan bahkan mungkin diperlukan untuk menunjang diagnosis adalah pemeriksaan tumor marker seperti Ca-125 dan Ca 72-4, beta – HCG dan alfafetoprotein. Semua pemeriksaan diatas belum bisa memastikan diagnosis kanker ovarium, akan tetapi hanya sebagai pegangan untuk melakukan tindakan operasi. Prosedur operasi pada pasien yang tersangka kanker ovarium sangat berbeda dengan kista ovarium biasa.
Hal terpenting pada operasi pasien yang tersangka kanker ovarium adalah semaksimal mungkin berusaha agar kista tersebut keluar secara utuh, kemudian dilakukan periksaan ke laboratorium Patologi Anatomik (pemeriksaan potong beku). Apabila hasil pemeriksaan potong beku bukan suatu kanker, maka operasi selesai. Sealiknya bila hasil pemeriksaan potong beku adalah kanker ovarium maka operasi dilanjutkan dengan mengangkat rahim, ovarium sisi lain, usus buntu, omentum, melakukan biopsy pada tempat yang dicurigai adanya penjalaran kanker di rongga perut dan melakukan pengambilan kelenjar getah bening di panggul. Tindakan yang komplek ini disebut sebagai Staging lapstotomy yang bertujuan untuk menentukan stadium penyakit sehingga dapat ditentukan rencana pengobatan selanjutnya setelah operasi.
Pada pasien yang belum mempunyai keturunan atau masih menginginkan keturunan masih bisa dipertimbangkan untuk tidak mengangkat rahim dan ovarium sisi lain. Perlu juga diketahui bahwa akurasi dari hasil pemeriksaan potong beku tersebut hanya berkisar antara 90-95%, sehingga diagnosis dari kanker ovarium baru diketahui setelah pemeriksaan Patologi Anatomik yang definitive. Hal ini menyebabkan pada beberapa pasien dengan hasil potong beku menyatakan bukan kanker ovarium, terpaksa dilakukan operasi Staging laparotomy.
Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit nyeri yang tidak berbahaya. Tetapi adapula kista yang berkembang menjadi besar dan menimbulkan nyeri yang tajam. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker ovarium.
Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh untuk mengetahui gejala mana yang serius. Gejala-gejala berikut yang mungkin muncul bila mempunyai kista ovarium :
a.       Perut terasa penuh, berat, kembung
b.      Tekanan pada dubur dan kandungan kemih (sulit buang air kecil)
c.       Haid tidak teratur
d.      Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke panggung bawah dan paha
e.       Nyeri senggama
f.       Mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada saat hamil
Gejala-gejala berikut memberikan petunjuk diperlukan penanganan kesehatan segera :
a.       Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba
b.      Nyeri bersamaan dengan demam
c.       Rasa ingin muntah

1.5.       Penyebab Kista Ovarium
Beberapa faktor resiko berkembangnya kista ovarium, adalah wanita yang biasanya memiliki:
1.      riwayat kista ovarium terdahulu
2.      siklus haid tidak teratur
3.      perut buncit
4.      menstruasi di usia dini (11 tahun atau lebih muda)
5.      sulit hamil 
6.      penderita hipotiroid
7.      penderita kanker payudara yang pernah menjalani kemoterapi (tamoxifen) 
1.6.       Pencegahan Kista Ovarium
Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Di Amerika Serikat pada tahun 2001 diperkirakan jumlah penderita Kanker Ovarium sebanyak 23.400 orang yang diperkirakan meninggal sebanyak 13.900 orang. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan karena penyakit ini pada awalnya bersifat asimptomatik dan baru menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastatis, sehinga 60% – 70% pasien datang pada stadium lanjut, sehingga penyakit ini disebut juga sebagai “silent killer”. Angka kejadian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti karena pencatatan dan pelaporan penyakit di negeri kita kurang baik. Sebagai gambaran di RS. Kanker Dharmais ditemukan kira-kira 30 penderita setiap tahun.

Kanker Ovarium yang kebanyakan berawal dari kista ovarium yang diderita sebelumnya kemudian berkembang menjadi kanker ovarium karena pengobatan yang terlambat dilakukan. Kanker Ovarium erat hubungannya dengan wanita yang mempunyai tingkat kesuburan rendah atau Intenfertilitas. Study epidemiologic menyatakan beberapa faktor resiko yang penting sebagai penyebab kanker ovarium adalah wanita nullipara, melahirkan pertama kali pada usia diatas 35tahun dan wanita yang mempunyai keluarga dengan riwayat ovarium, kanker payudara atau kanker kolon. Sedangkan wanita dengan riwayat kehamilan pertama terjadi pada usia dibawah 25tahun, penggunaan pil kontrasepsi dan menyusui akan menurunkan kanker ovarium seanyak 30% – 60%. Faktor lingkungan seperti penggunaan talk, konsumsi galaktose dan sterilisasi ternyata tidak mempunyai dampak terhadap perkembangan penyakit ini.
Tidak ada upaya pencegahan khusus yang dapat dilakukan agar terhindar dari penyakit ini. Upaya yang bisa dilakukan adalah untuk mengetahui secara dini penyakit ini sehingga pengobatan yang dilakukan memberikan hasil yang baik dengan komplikasi yang minimal. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan secara berkala yang meliputi :
1.    Pemeriksaan klinis genekologik untuk mendeteksi adanya kista atau pembesaran ovarium lainnya
2.    Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) bila perlu dengan alat Doppler untuk mendeteksi aliran darah
3.    Pemeriksaan petanda tumor ( tumor marker )
4.    Pemeriksaan CT-Scan / MRI bila dianggap perlu
Pemeriksaan tersebut diatas sangat dianjurkan terutama terhadap wanita yang mempunyai resiko akan terjadi kanker ovarium, yaitu :
1.    Wanita yang haid pertama lebih awal dan menopause lebih lambat
2.    Wanita yang tidak pernah atau sulit hamil
3.    Wanita dengan riwayat keluarga menderita kanker ovarium
4.    Wanita penderita kanker payudara atau kolon

1.7.       Penatalaksanaan
1.    Observasi
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau) selama 1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas (kanker).
2.    Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni dilakukan pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi. Biasanya untuk laparoskopi Anda diperbolehkan pulang pada hari ke-3 atau ke-4, sedangkan untuk laparotomi Anda diperbolehkan pulang pada hari ke-8 atau ke-9.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar