Jumat, 11 Januari 2013

askeb imunisasi polio II dan dpt hb combo 1


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Program imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat yang terbukti paling cost effective dan telah diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Dengan program ini, Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun 1974. Selain itu dengan telah diperluasnya program imunisasi menjadi Program Pengembangan Imunisasi sejak tahun 1977, berbagai PD3I sudah dapat ditekan.
Upaya imunisasi perlu ditingkatkan untuk mencapai tingkat population immunity (kekebalan masyarakat) yang tingi sehingga PD3I dapat dibasmi, dieliminasi atau dikendalikan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, upaya imunisasi dapat semakin efektif, bermutu dan efisien.
Tahun 1977, upaya imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu Tuberkulosis, Difteri, Pertusis, Tetanus, Campak, Polio dan Hepatitis B. Dengaupaya tahun 1995, tidak ditemukan lagi virus polio liar yang berasal dari Indonesia (indigenous). Hal ini sejalan dengan upaya dunia untuk membasmi polio di dunia dengan Program Eradikasi Polio (ERAPO).
Berdasarkan revolusi sidang World Healthy Assembly pada tahun 1992. Maka pada tahun 1992 WHO merekomendasikan pemberian imunisasi Hepatitis B bagi semua bayi didaerah endemis tertinggi. Pada tahun 1997 WHO merekomendasikan agar imunisasi Hepatitis B diintegrasikan ke dalam program imunisasi rutin.
Virus Hepatitis B (HBV) merupakan penyebab utama dari Hepatitis kronik dan akut maupun kanker hati. Penyebaran penyakit universal dengan tingkat endemisitas yang tinggi di RRC, Asia Tenggara, Sub Sahara afrika, Lembah amazon dan sebagian pulau di Pasifik.di daerah ini 5-30 % penduduk menderita penyakit kronik dan mengidap virus dalam tubuhnya (carrier) dimana hampir seluruhnya mengalami infeksi pada saat lahir atau berusia balita.
Dalam multi years plan 2002-2007 program imunisasi telah digariskan bahwa kegiatan program imunisasi perlu diarahkan untuk efektivitas, efisiensi serta kualitas pelaksanaan seperti tela diketahui pencegahan Hepatitis B yang efektif di Indonesia adalah dengan memberikan dosis pertama usia 0-7 hari karena tinginya angka transmisi Hepatitis B secara vertikal di Indonesia.
Berkat kemajuan teknologi pembuatan vaksin, telah dimunkinkan vaksin DPT dan Hepatitis B dikombinasikan dalam satu preparat tunggal (DPT/Hb Combo). Berdasarkan hasil penelitian dengan berbagai dosis dan berdasarkan rekomendasi dari para ahli dipilah kombinasi DPTdenga dosis Hepatitis B 5 ug (DPT/Hb 5 Combo). Dengan adanya pemberian DPT Hb Combo tersebut pemberian imunisasi menjadi lebih sederhana dan menghasilkan tingkat cakupan yang setara antara Hb dan DPT. (Universitas Sumatra Utara 2004)
Di dalam rencana jangka panjang program imunisasi untuk tahun 2002-2006 Multi Years Plan ditetapakan bahwa introduksi vaksin DPT/Hb akan dimulai implementasi dalam program imunisasi secara bertahap. Tahapan tersebut dimulai dari pada tahun 2004 yang mencakup ± 20 % dari jumlah sasaran, pada tahun 2005 mencakup 50 % dari jumlah sasaran dan untuk tahun 2006 diharapakan telah mencapai 100 %. Tahap awal dimulai pada bulan September 2004 di tiga provinsi dengan infrastruktur yang lebih berpengalaman yaitu Jawa Timur, NTB, DIY dan Bangka Belitung yang mempunyai nilai historis yaitu daerah pilot project dimulainya imunisasi pada tahun 1973.



















BAB II
LANDASAN TEORI
IMUNISASI

A.       PENGERTIAN
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak terhadap penyakit tertentu. (Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga, 1998 : 47)
Imunisasi adalah upaya yang dilakukan untuk memperoleh kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit tertentu. (Kebidanan Komunitas : 164)

B.       JENIS-JENIS KEKEBALAN
1.    Kekebalan aktif
Adalah kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama. Kekebalan aktif dibagi dalam 2 jenis antara lain :
-       Aktif alamiah
Dimana tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah mengalami / sembuh dari suatu penyakit.
-       Aktif buatan
Kekebalan yang dibuat tubuh setelah mendapat vaksin (imunisasi)
2.    Kekebalan pasif
Adalah tubuh anak tidak membuat zat anti bodi sendiri tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolak, sehingga proses cepat tetapi tidak bertahan lama. Kekebalan pasif dibagi dalam 2 jenis antara lain :
-       Pasif alamiah atau pasif bawaan
Yaitu kekebalan yang diperoleh bayi sejak lahir dari ibunya. Kekebalan ini tidak berlangsung lama (kira-kira hanya sekitar 5 bulan setelah bayi lahir, misalnya difteri, morbili dan tetanus.
-       Pasif buatan
Kekebalan ini diperoleh setelah mendapat suntikan zat penolak. Misalnya pemberian vaksinasi ATS (Anti Tetanus Serum)
(Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga, 1998 : 47-48)


C.      Tujuan
Tujuan dari pemberian imunisasi adalah ;
1.    Untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu
2.    Apabila terjadi penyakit, tidak akan terlalu parah
3.    Mencegah geja;a yang dapat menyebabkan cacat dan kematian
(Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga : 48)

D.      Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD31)
-        Jenis penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD31) adalah :
a.    Difteri
b.    Pertusis
c.    Tetanus
d.   Tuberkulosis
e.    Campak
f.     Poliomielitis
g.    Hepatitis B
-        Gejala penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD31)
1.    Difteri
Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri “corynebacterium diphterine” Penyebarannya adalah melalui kontak fisik dan pernafasan. Gejala awal penyakit adalah radang tenggorokan, hilang nafsu makan dan demam ringan. Dalam 2-3 hari timbul selaput putih kebiru-biruan pada tenggorokan dan tonsil. Difteri dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan pernafasan yang berakibat kematian.
2.    Pertusis
Disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari adalah penyakit pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri “Bordetella Pertusis). Penyebab pertusis adalah melalui percikan ludah (droplet infection) yang keluar dari batuk atau bersin.
Gejala penyakit ini adalah pilek, mata merah, bersin demam, dan batuk ringan yang lama-kelamaan batuk menjadi parah dan menimbulkan batuk menggigil yang cepat dan keras. Komplikasi pertusis adalah “Pneumonia Bacterialis” yang dapat menyebabkan kematian.


3.    Tetenus
Adalah penyebab yang disebabkan oleh “Clostridium tetani” yang menghasilkan neurotoksin. Penyakit ini tidak menyebar dari orang ke orang, tetapi melalui kotoran yang masuk ke dalam luka yang dalam. Gejala awal penyakit adalah kaku otot pada rahang disertai kaku pada leher, kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat dan demam.
Pada bayi terdapat juga gejala berhenti menetek (sneking) antara 3-28 hari setelah lahir. Gejala berikutnya adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi kaku. Komplikasi tetanus adalah patah tulang akibat kejang, pneumonia dan infeksi lain yang dapat menimbulkan kematian.
4.    Tuberkulosis
Adalah penyakit yang disebabkan oleh “Mycobacterium Tuberculosa” (disebut juga batuk darah). Penyakit ini menyebar melalui pernafasan, lewat bersin atau batuk, gejala awal penyakit adalah lemah badan, penurunan berat badan, demam dan keluar keringat pada malam. Gejala selanjutnya adalah batuk terus-menerus, nyeri dada dan (mungkin) batuk darah. Gejala lain tergantung pada organ yang diserang. Tuberkulosis dapat menyebabkan kelemahan dan kematian.
5.    Campak
Adalah penyakit yang disebabkan oleh virus mixovirus viri dae maesles. Disebarkan melalui udara (percikan ludah) sewaktu bersin atau batuk dari penderita. Gejala awal penyakit adalah demam, bercak kemerahan, batuk, pilek konjungtivis (mata merah). Selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh dan tangan serta kaki.
Komplikasi campak adalah diare hebat, peradangan pada telinga dan infeksi saluran nafas (pneumania)
6.    Poliomielitis
Adalah penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari tiga virus yang berhubungan yaitu virus polio tipe 1, 2 atau 3.
Secara klinis penyakit polio adalah anak di bawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut (acute flakid paralysis = AFP)
Penyebaran penyakit adalah melalui kotoran manusia (tinja) yang terkontaminasi. Kumpulan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Kemudian bisa terjadi karena kelumpuhan otot-otot pernafasan terinfeksi.
7.    Hepatitis B
Hepatitis B (penyakit kuning) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang merusak hati. Penularan penyakit adalah secara horizontal yaitu dari darah dan melalui hubungan seksual. Sedangkan penularan secara vertikal yaitu dari ibu ke bayi selama proses persalinan.
Infeksi pada anak biasanya tidak menimbulkan gejala. Gejala yang ada dalah merasa lemah, gangguan perut dan gejala lain seperti flu. Urin menjadi kuning, kotoran menjadi pucat, warna kuning bisa terlihat pula pada mata ataupun kulit. Penyakit ini bisa menjadi kronis dan menimbulkan pengerasan hati, kanker hati dan menimbulkan kematian.
(Pelatihan safe injection, unicef. 2005 : 2-3)

E.       Klasifikasi Vaksin
Vaksin adalah kuman atau racun kuman yang dimasukkan ke dalam tubuh bayi / anak yang disebut antigen. (Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga : 47)
Jenis vaksin yang digunakan di Indonesia banyak macamnya pada dasarnya vaksin dibuat dari :
a.       Vaksin dari kuman hidup yang dilemahkan seperti :
1.         Virus campak dalam vaksin campak
2.         Virus polio dalam jenis sabin pada vaksin polio
3.         Kuman TBC dalam vaksin BCG

b.   Vaksin dari kuman yang dimatikan seperti
1.         Bakteri pertusis dalam DPT
2.         Virus polio jenis salk dalam vaksin polio

c.   Vaksin dari racun / toksin kuman yang dilemahkan :
1.         Racun kuman seperti toxoid (++) diptheria toxoid dalam DPT

d.   Vaksin yang terbuat dari protein khusus kuman :
1.         Vaksin yang dibuat dari protein seperti Hepatitis B.
Untuk menggunakan vaksin, beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai berikut :
a.     Persyaratan pemberian vaksin
1.      Pada bayi dan anak yang sehat
2.      Pada bayi yang sedang sakit
-  Sakit keras
-  Dalam masa tunas suatu penyakit
-   Definisi immunologi
3.      Vaksin harus baik, disimpan dalam lemari es dan belum lewat masa berlakunya.
4.      Memberikan imunisasi dengan teknik yang tepat
5.      Mengetahui jadwal vaksinasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi yang diterima
6.      Meneliti jenis vaksin yang akan diberikan
7.      Memperhatikan dosis yang akan diberikan

Cara pengambilan vaksin dan penyuntikannya, pengambilan vaksin harus hati-hati dengan cara sebagai berikut :
1.      Bagian tengah tutup botol metal dibuka sehingga kelihatan karet
2.      Tutup karet didesinfeksi dengan desinfektan
3.      Ambil jarum yang steril dengan spuitnya untuk menghisap vaksin ke dalam spuit
4.      Kulit yang akan disuntik didesinfektan, kemudian dibersihkan dengan kapas air hangat baru dilakukan penyuntikan
(Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga, 1993 : 48-49)


F.       Jenis dan Sifat Vaksin
  1. Penggolongan vaksin
Vaksin dapat digolongkan menurut sensitivitas terhadap suhu. Ada 2 golongan, yaitu :
a.         Vaksin yang sensitif terhadap beku (freeze sensitive : FS) yaitu : vaksin DPT, DT, TT, Hepatitis B dan DPT – HB
b.         Vaksin yang sensitif terhadap panas (Heat Sensitive: HS) yaitu : Vaksin campak, polio dan BCG
  1. Jenis-jenis vaksin
Vaksin-vaksin yang saat ini dipakai dalam program imunisasi rutin di Indonesia adalah :
a.         Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerine)
-         Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberkulosis
-        Cara pemberian dan dosis :
1.        Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu. Melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril (ADS 5 ml)
2.        Dosis pemberian : 0,05 ml, sebanyak 1 kali
3.        Disuntikkan secara intracutan di daerah lengan kanan atas (Insertio Muslulus Deltoideus) dengan menggunakan ADS 0,05 ml
4.        Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam

-        Kontra Indikasi 
1.        Adanya penyakit kulit yang berat / menahun, seperti : eksim, furunkulosis dan sebagainya.
2.        Mereka yang sedang menderita TBC

-        Efek samping
Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti demam. Setelah 1-2 minggu akan timbul indurasi dan kemerahan di tempat suntikan yang berubah menjadi postula, kemudian pecah menjadi luka, luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan dan meninggalkan tanda parut, kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar regional di ketiak dan atau leher, terasa padat, tidak sakit dan tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan dan akan menghilang dengan sendirinya.

b.         Vaksin DPT
-       Diskripsi Vaksin jerap DPT (dipteri, pertusis, tetanus) adalah vaksin yang terdiri dari toxoid difteri dan tetenus yang dimurnikan serta bakteri pertusis yang telah dinaktivasi.
-       Indikasi Untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadapdifteri, pertusis dan tetanus
-        Cara pemberian dan dosis
1.   Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
2.   Disuntikan secara intramuskuler dengan pemberian 0,5 ml sebanyak 3 dosis
3.   Dosis pertama diberikan pada umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 4 minggu (1 bulan)
-        Kontra indikasi
Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontra indikasi pertusis. Anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama, komponen pertusis harus dihindarkan pada dosis kedua dan meneruskan imunisasinya dapat diberikan DT
-        Efek samping
Gejala-gejala yang bersifat sementara seperti : lemas, demam, kemerahan pada tempat penyuntikan, kadang-kadang terjadi gejala berat seperti demam tinggi, iritabilitas dan merancau yang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi.

c.         Vaksin TT
-        Diskripsi
Vaksin jerap TT (Tetanus Toxoid) adalah vaksin yang mengandung toxoid tetanus yang telah dimurnikan dan terabsorbsi ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat. Thimerosal 0,1 mg/ml digunakan sebagai pengawet. Satu dosis 0,5 ml. Vaksin mengandung potensi sedikitnya 40 IU. Dipergunakan untuk mencegah tetanus pada bayi. (Vademeeum Bio Karma, Januari 2002)
-        Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tetanus
-        Cara pemberian dan dosis
1.        Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
2.        Untuk mencegah tetanus / tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikan secara intra muskuler atau subkutan dalam dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan interval 4minggu. Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis keempat dan kelima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ketiga dan keempat. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada periode trimester pertama.
-        Kontra indikas : Gejala-gejala beratkarena dosis pertama TT
-       Efek samping Efek samping jarang terjadi dan bersifat ringan, gejala-gejala seperti lemas dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara dan kadang-kadang gejala demam.
d.        Vaksin DT
-       Diskipsi :Vaksin jerap DT (Difteri dan Tetanus) adalah vaksin yang mengandung loxoid difteri dan tetanus yang telah dimurnikan. (Vademacum Bio farma, Januari 20020)
-       Indikasi : Untuk pemberian kekebalan simultan terhadap difteri dan tetanus
-        Cara pemberian dan dosis
Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen, Disuntikkan secara IM atau SC dalam dengan dosis 0,5 ml. Dianjurkan untuk anak di bawah 8 tahun atau lebih dianjurkan imunisasi dengan vaksin TD
-        Kontra indikasi : Gejala-gejala berat karena dosis pertama DT
-       Efek samping : Gejala-gejala seperti lemas dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara, dan kadang-kadang gejala demam

e.         Vaksin polio
-       Diskripsi : Vaksin oral polio hidup adalah vaksin polio trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1, 2 dan 3 (strain sabin) yang sudah dilemahkan, dibuat dalam biakan jaringan ginjal keras dan distabilkan dengan sukrosa.
-       Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomielitis
-       Cara pemberian dan dosis
1.    Diberikan secara oral (melalui mulut) 1 dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu
2.    Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru
-       Kontra indikasi : Pada individu yang menderita “immune deficiency” tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit. Namun jika ada keraguan misalnya sedang menderita diare, maka ulangan dapat diberikan setelah sembuha.
-        Efek samping : Pada umumnya tidak terdapat efek samping, efek samping berupa poralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi (kurang dari 0,17 : 1.000.000 ; Bull WHO 66 : 1988)

f.          Vaksin campak
-       Diskrips : Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan, setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus strain CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin (vademeceum biofarma, Januari 2002)
-       Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak
-       Cara pemberian dan dosis :
1.         Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut
2.         Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas, pada usia 9-11 bulan dan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) setelah catch-up campaign campak pada anak sekolah dasar kelas 5-6.
-       Kontra indikasi : Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, limfoma
-       Efek samping
Hingga 15% px dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi.

g.         Vaksin hepatitis B
-       Diskripsi : Adalah vaksin virus recombinan yang telah diinaktifasikan dan bersifat non-infeclous, berasal dari HBs Ag yang dihasilkan dalam sel ragi (hansenula Polymerpha) menggunakan teknologi DNA recombinan (Vademecum bio farma, Jan 2002)
-       Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B

-       Cara pemberian dan dosis
1.      Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
2.      Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 (buah) HB PID, pemberian suntikan secara IM sebaiknya pada anterolateral paha
3.      Pemberian sebanyak 3 dosis
4.      Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari dosis berikutnya dengan interval minimum 4 minggu (1 bulan)
-       Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap komponen vaksin sama halnya seperti vaksin-vaksin lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada pasien penderita infeksi berat yang disertai kejang.
-       Efek samping : Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan disekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari.

Jadwal Pemberian Imunisasi
Vaksin
Pemberian imunisasi
Selang waktu Pemb.
Umur
Keterangan
BCG
DDT
Polio
Campak
Hep. B
1 x
3 x (DDT 1,2,3)
4 x (Pol 1,2,3,4)
1 x
3 x (hep. 1,2,3)
-
4 minggu
4 minggu
-
4 minggu
0 – 11 bln
2 – 11 bln
0 – 11 bln
9 – 11 bln
0 – 11 bln




Untuk bayi yang lahir di rumah sakit/puskesmas HB, BCG dan polio dapat segera diberikan
(Modul latihan petugas imunisasi, edisi 7, 2000. Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Def Kes dan Kesehatan Sosial R.I Jakarta : 13)
Alternatif I
Umur
Antigen
0 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan
HB I, BCG, Polio 1
HB 2, DPT, polio 2
HB 3, DPT 2, polio 3
DPT 3, polio 4
Campak
Alternatif II
Umur
Antigen
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan
BCG, Polio I, DPT I
HB I, Polio 2, DPT 2
HB 2, Polio 3, DPT 3
HB 3, Polio 4, Campak































BAB III
ASUHAN KEBIDANAN
PADA BAYI “S” UMUR 3 BULAN 1 MINGGU
DENGAN IMUNISASI POLIO II DAN DPT HB COMBO I


I.     SUBYEKTIF
A.    IDENTITAS BALITA
Nama Anak                 : An.”S”
Jenis Kelamin              : Laki-laki
Tanggal Lahir/Umur    : 27-8-2012   3 bulan 1 minggu
Agama                         : Islam
Anak ke                       : V (LIMA)
Alamat                         : Plemahan - sumobito

B.     IDENTITAS ORANG TUA

Nama ibu         : Tn.”M”
Umur                : 33 tahun
Agama             : Islam
Suku/Bangsa    : Jawa/Indonesia
Pendidikan       : SMP
Pekerjaan         : tani
Alamat             : Plemahan-sumobito

Nama Ayah      : Ny.”M”
Umur                : 36 tahun
Agama             : Islam
Suku/Bangsa    : Jawa/Indonesia
Pendidikan       : SMP
Pekerjaan         : Tani
Alamat             : Plemahan-sumobito


C.     Alasan Kunjungan Saat Ini
Ibu mengatakan ingin mengimunisasikan anaknya sesuai jadwal yang ditentukan pada hari sekarang yakni DPT Hb Combo 1 dan Polio 2.

D.    Riwayat Kesehatan
a.       Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan datang ke posyandu “ sedap malam “ untk mengimunisasikan DPT Hb Combo dan Polio, saat ini bayinya telah berumur 3 bulan 1 minggu dalam keadaan sehat, tidak menderita sakit apapun misalnya batuk, pilek, panas dan tidak memiliki kejang sebelumnya.

b.      Riwayat kesehatan yang Lalu
Ibu mengatakan bahwa bayinya tdak pernah dirawat dirumah sakit sejak lahir.

c.       Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan bahwa dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti asma, jantung, kencing manis dan penyakit menular seperti demam berdarah, TBC, Hepatitis.

1)      Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang Lalu
Hamil ke-
UK
Persalinan
Bayi
Nifas
Jenis
Penolong
Tempat
BB/PP
Seks
Keadaan
Laktasi
1
38
SPT
BIDAN
BPM
2700/50
P
NORMAL
ASI
2
38
SPT
BIDAN
BPM
2800/49
L
NORMAL
ASI
3
38
SPT
BIDAN
BPM
2800/50
L
NORMAL
ASI
4
ABORTUS






5
38
SPT
BIDAN
BPM
3360/50
L
NORMAL
ASI

2)      Riwayat Imunisasi
Jenis Imunisasi
Tanggal Pemberian
I
II
III
IV
Hb Uniject
BCG
DPT Hb Combo
Polio
Campak
30-08-2012
08-10-2012
04-12-2012
08-10-2012



04-12-2012



3)      Pola Aktifitas Sehari-hari
a.    Pola Nutrisi
Ibu mengatakan bayinya mendapat ASI Eksklusif sampai sekarang (umur 3 bulan 1 minggu). Bayi diberikan ASI Eksklusif setiap bayi menangis/haus dan setiap 2 jam sekali pada siang hari serta 3 jam sekali pada malam hari.

b.    Pola Istirahat
Ibu mengatakan bayinya :
«  Tidur Siang     : Pukul 08.00-10.00 WIB (2 jam)
Pukul 12.00-15.00 WIB (3 jam)
Pukul 16.30-18.30 WIB (2 jam)
«  Tidur Malam   : Pukul 20.30-04.30 WIB (8 jam)
Kadang terbangun bila lapar, BAB dan BAK.
c.    Pola Eliminasi
«  BAB      :  2x/hari
Wana kuning, konsistensi lunak, bau khas, tidak ada keluhan.
«  BAK      :  9-10x/hari
Warna kuning, jernih, bau khas, tidak ada keluhan.

d.   Pola Personal Hygiene
Ibu mengatakan bahwa bayinya :
«  Mandi 2x/hari (pagi dan sore).
«  Keramas 1x/hari (setiap sore).
«  Ganti baju 2x/hari (setiap selesai mandi/setiap pakaian basah dan kotor karena BAB dan BAK).
«  Potong kuku 1x/minggu.

e.    Pola Aktifitas
Ibu mengatakan bahwa bayinya bergerak aktif, menangis setiap lapar, BAB dan BAK serta tertawa dan merespon saat diajak bicara/bermain.

4)      Riwayat Tumbuh Kembang
a.       Pertumbuhan
«  BB saat lahir               :  3360 gram
«  BB umur 1 bulan        :  4000 gram
«  BB umur 2 bulan        :  5300 gram
«  BB umur 3 bulan        :  6300 gram

b.      Perkembangan
«  Motorik kasar      : Tengkurap, mengangkat kepala.
«  Motorik halus      : Kepala menoleh ke kiri dan ke kanan.
«  Bahasa                 : Merespon terhadap suara (tertawa, teriak).
«  Psikososial           : Melihat dan menutup wajah.
Mulai mengenal ibunya (keluarga).

II.  DATA OBYEKTIF
1.      Pemeriksaan Umum
§  Kesadaran Umum       : Baik
§  Kesadaran                   : Composmetis                                
§  BB                               : 6300 gram
§  PB                               : 61 cm
§  LD                               : 42 cm
§  LK                               : 36 cm
§  Tanda- tanda Vital      :
1.      Nadi            : 112 x/menit
2.      Suhu            : 36,9° C
3.      RR              :  42 x/menit

2.      Pemeriksaan Fisik
a.      Inspeksi
«  Kepala : Bentuk kepala bulat, Simetris, Rambut lurus, hitam, pendek, Tidak ada benjolan, Kulit kepala bersih
«  Mata    : Simetris, Konjungtiva merah muda, Pupil +, Kornea jernih, Skelera  putih, Tidak ada strabismus
«  Muka   : Bentuk muka oval, Simetris, tidak pucat.
«  Hidung : Simetris dan tidak ada sekret, Hygiene hidung baik, Tidak adanya polip
«  Mulut dan gigi : Simetris, Bibir lembab, Tidak stomatitis, Tidak ada labio khisis, Tidak ada palato khisis, Gigi belum tumbuh
«  Telinga : Bentuk telinga normal dan simetris, Tidak ada serumen, Hygine telinga baik
«  Leher   :  Tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid dan kelenjar limfe
«  Dada   : Tidak ada tarikan dinding dada, Tidak ada benjolan/luka
«  Abdomen : Simetris, Tidak ada pembesaran abdomen
«  Anus   : Bersih, Tidak ada atresia ani
«  Genetalia : Jenis kelamin laki-laki, Belum tumbuh rambut penis, 2 Testis  turun dalam skrotum, Tidak ada pembengkakan pada glands dan batang penis, Belum tampak preputium karena belum dikhitan
«  Muskuloskletal : Normal, Tidak ada kelainan/patah tulang
«  Kulit    : Warna kemerahan, Tidak ada bekas luka
«  Eksteremitas atas      : Simetris, Tidak ada kelainan gerak, Tidak ada oedem, Gerak aktif
«  Ekremitas bawah       : Simetris, Tidak ada kelainan gerak, Tidak ada oedem, Gerak aktif

b.      Auskultasi
« Dada               : *Jantung       : Normal
*Paru-paru    : Tidak terdengar ronchi dan wheezing
« Abdomen        :  Bising usus normal

c.       Perkusi
«  Abdomen     : Timpani

d.      Palpasi
«  Kepala        :  Tidak ada benjolan, Tidak ada nyeri tekan
«  Leher          : Tidak ada pembengkakan  pada kelenjar limfe, Tidak ada nyeri tekan
«  Dada          :  Tidak ada nyeri tekan, Tidak ada benjolan
«  Abdomen   : Tidak ada pembesaran hepar (hematospenomegali)



III.        ASSASMENT
1.        Diagnosa    : By.”T ” umur 3 bulan 1 minggu dengan imunisasi polio II dan DPT Hb I.
Do              : -Keadaan umum       : Baik
                     -Kesadaran               : Composmetis
                     -Tanda-tanda vital    :
·        Nadi     :           112x/menit
·        Suhu     :           36,9°C
·        RR       :           42x/menit
                     BB                                  : 6300 gram
PB                                  : 61 cm
LD                                  : 42 cm
LK                                  : 36 cm

2.      Masalah  : -
3.      Kebutuhan
Ø  Konseling efek imunisasi
Ø  Konseling terapi obat


IV.        PENATALAKSANAAN
1.      Melakukan Pendekatan Terapeuitik Dengan Komunikasi Kepada Ibu Dan Keluarga Sehingga Terjalin Kerjasama Yang Baik.
Respon : klien dan keluarga koperatif

2.      Menjelaskan Hasil Pemeriksaan Yang Telah Dilakukan Kepada Ibu Dan Keluarga,
Nadi    :112x/menit
Suhu    : 36,9°C
RR      : 42x/menit

BB : 6300 gram
PB : 61 cm
LD : 42 cm
LK : 42 cm                    : 42 cmLK                                                       : 36 c
Respon : ibu mengerti dan mengetahui keadaan bayi nya saat ini


3.      Menjelaskan Kepada Ibu Mengenai Imunisasi Polio Dan Imunisasi DPT Hb Combo.
·        Manfaat           :           1) Mencegah penyakit polio
2) Mencegah penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus
·        Cara pemberian :         1) Melalui mulut dengan tetes
        2) Melalui paha luar dengan IM
·        Dosis        :                   1) 2 tetes untuk polio
               2) 0,5 cc untuk HB combo dan DPT
·        Umur pemberian :        1) 1-9 bulan polio
                  2) 2-9 bulan HB combo dan DPT
·        Selang waktu   :           1) 4 minggu
                  2) 4 minggu
·        Sebanyak         :           1) 4 kali
                  2) 3kali
·        Efek samping  :           1) Tidak ada efek samping
                  2) Panas
Respon : ibu mengerti penjelasan yang di berikan oleh petugas kesehatan dan faham atas efek samping yang akan terjadi setelah imunisasi.

4. Melakukan Persetujuan Kepada Ibu Dan Keluarga Agar Mengizinkan Untuk Dilakukan Imunisasi Polio Dan DPT Hb Combo
Respon : ibu menyetujui anaknya untuk dilakukan imunisasi polio dan HB combo

5. Melakukan persiapan dan perasat imunisasi
*Imunisasi DPT Hb Combo
Ambil spuit dan vial vaksin DPT Hb Combo, kemudian ambil vaksin dengan dosis 0,5 cc. Anjurkan ibu untuk menidurkan bayinya dengan posisi yang nyaman. Kemudian anjurkan ibu untuk memegangi anaknya agar saat penyuntikan tidak bergerak. Kemudian ambil spuit dan kapas yang beralkohol kemudian suntikkan pada paha luar kanan dengan cara IM.
*Imunisasi Polio
Ambil vaksin, kemudian anjurkan ibu untuk mengatur atau digendong bayinya dengan posisi yang nyaman sehingga pemberian polio dapat dilakukan dengan tepat. Dengan dosis 2 tetes melalui mulut.
Respon : ibu menggendong bayinya dengan nyaman, bayi menangis pada saat pemberian imunisasi baik polio dan HB Combo

6. Memberikan obat antipiuretik untuk mencegah efek panas yang ditimbulkan dari suntikan DPT Hb Combo. Paracetamol dengan aturan 3 x ½.
Respon :ibu mengerti dan mau memberikan obatnya sesuai instruksi petugas kesehatan.

7. Menganjurkan ibu untuk membawa kembali bayinya ke Posyandu untuk mendapatkan imunisasi campak pada usia  genap 9 bulan.
Respon : ibu mengerti.


























BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Setelah dilakukan Asuhan Kebidanan Pada By.”T” Umur  3  Bulan 1 Minggu Dengan Imunisasi Polio 2 Dan DPT Hb Combo 1  Di Posyandu Sedap Malam I Di Plemahan Sumobito Jombang pada tanggal 4-12-2012 diperoleh data :
v  Dalam pengkajian kasus Pada By.”T” Umur  3  Bulan 1 Minggu Dengan Imunisasi Polio 2 Dan DPT Hb Combo 1 Di Posyandu Sedap Malam I Jombang didapatkan data subyektif dan obyektif melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan penunjang yang digunakan untuk merumuskan diagnosa dan masalah.
v  Dalam pengkajian kasus Pada By.”T” Umur  3 Bulan 1  Minggu Dengan Imunisasi Polio 2 Dan DPT Hb Combo 1 Di Posyandu Sedap Malam I Jombang lakukan pendekatan pada klien dan keluarga. Memberitahu kepada ibu bahwa bayinya dalam keadaan sehat dengan hasil pemeriksaan:
-Keadaan umum       : Baik
                     -Kesadaran               : Composmetis
                     -Tanda-tanda vital    :
·        Nadi     :           112x/menit
·        Suhu     :           36,9°C
·        RR       :           42x/menit
                     BB                                  : 6300 gram
PB                                  : 61 cm
LD                                  : 42 cm
LK                                  : 36 cm

v  Telah dilakukan penatalaksanaan sesuai dengan teori.

B.     Saran
Ü  Bagi Mahasiswa
Sebagai pelaksana untuk memberikan Asuhan Kebidanan hendaknya mahasiswa terus menambah pengetahuan dan pengalaman serta mengembangkan ketrampilan sehingga mampu memberikan asuhan kebidana secara optimal.

Ü  Bagi Lahan Praktek
Dalam mencapai tingkat kesehatan diperlukan tempat memadai atas sarana dan prasarana yang lengkap sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat dengan mengutamakan profesionalisme.

Ü  Bagi Institusi
Sebaiknya lebih banyak menyediakan literatur, agar penyusun asuhan kebidanan lebih mudah dan dalam menyelesaikan tugasnya.

Ü  Bagi Klien
Agar mereka mengetahui masalah apa saja yang berkaitan dengan jenis, cara kerja, efektifitasnya dan keuntungan dari imunisasi Polio dan DPT Hb Conbo sehingga mudah bekerjasama dengan mengatasi setiap permasalahn yang mungkin terjadi.























DAFTAR PUSTAKA

Recommended immunization schedules for children and adolescents--United States, 2008. Pediatrics . Jadwal imunisasi yang direkomendasikan untuk anak-anak dan remaja - Amerika, 2008. United Pediatrics. 2008;121(1):219-220. 2008; 121 (1) :219-220.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Recommended adult immunization schedule---United States, 2009. MMWR. January 9, 2009;57(53);Q1-Q4. Fitur dewasa jadwal imunisasi --- Amerika Serikat, 2009;. 2009 MMWR. 9 Jan, 57 (53); Q1-Q4.









                                                   










KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan nikmat, rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas praktik klinik kebidanan ini yang berjudul : “ Asuhan Kebidanan Pada By ‘T’ Umur 5 Hari Dengan Ikterus Neonatorum Di Ruang Anggrek RSUD Jombang”.
            Dalam penyusunan Asuhan Kebidanan ini, tidal lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Bpk. dr. H. M. Zulfikar As’ad, MMR selaku dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum Jombang,
2.      Ibu Hj. Sabrina Dwi Prihartini, SKM selaku kaprodi DIII Kebidanan FIK Universitas Tinggi Darul ‘Ulum Jombang.
3.      Ibu Suyati M.kes. selaku pembimbing akademik DIII Kebidanan UNPDU Jombang.
4.      Ibu Hj. Eni Susilowati Amd.Keb, Selaku Pembimbing Ruangan BPM
5.      Semua pihak yang telah membantu dan mendukung kami baik secara langung maupun tidak.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak sekali kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu, penulis sangat mengahrap kritik dan saran guna perbaikan laporan Asuhan Kebidanan ini.
Semoga Asuhan Kebidanan ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya danpenulisnya khususnya.


Jombang,  16  Desember 2012








ASUHAN KEBIDANAN
PADA BAYI “S” UMUR 3 BULAN 1 MINGGU
DENGAN IMUNISASI POLIO II DAN DPT HB COMBO I
DI BPM Hj. ENI SUSILOWATI Amd.Keb
PLEMAHAN-SUMOBITO JOMBANG



Disusun Oleh :
NOVI KHOIROTUN NISAK
7210043



PRODI D III KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM
JOMBANG
2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar